Download sekarang
  • Media promosi

  • Pembukuan usaha

  • Info bisnis

  • Buku hutang

Kwitansi atau Kuitansi, Bagaimana Penulisan yang Benar?

Penulisan kwitansi atau kuitansi yang benar (Foto:123rf.com)
Penulisan kwitansi atau kuitansi yang benar (Foto:123rf.com)

Kwitansi atau kuitansi menjadi tanda bukti yang sah dalam penerimaan uang. Kamu bisa menemukan kwitansi di berbagai transaksi pembayaran terutama setelah melakukan pembayaran cukup besar. Kwitansi juga diberikan sebagai tanda terima untuk pembayaran lainnya, misalnya setelah membayar tagihan, membayar iuran, atau mendepositokan sejumlah uang di bank.

Penulisan Kwitansi yang Benar

Saat menerima kwitansi, kamu mungkin menerima lembaran bertulisan kuitansi. Lalu, bagaimana cara penulisan yang benar? Apakah keduanya sama saja? 

Kamu mungkin lebih sering menemukan lembaran tanda terima dengan judul kwitansi. Penggunaan kata kwitansi memang lebih sering digunakan. Tetapi, ini adalah ejaan yang keliru.

Kata kwitansi merupakan kata yang tidak baku. Menggunakan kata tidak baku adalah bagian dari ketidakcermatan berbahasa dalam berkomunikasi. Cara ini dapat membawa masalah bagi penggunanya.

Menurut Tim Pusdiklat Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Keuangan mengenai Bahasa Indonesia, kata baku adalah kata yang sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia. Sumber utama yang telah ditentukan dalam pemakaian Bahasa baku adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Kecermatan menggunakan kata baku ini sangat penting dalam konteks percakapan atau penulisan yang bersifat resmi. Salah satu pekerjaan yang membutuhkan penulisan dengan resmi adalah pegawai instansi pemerintah. Dalam kesehariannya, pegawai instansi pemerintah kerap berhadapan dengan situasi resmi. Sehingga, penggunaan kata baku harus dicermati lebih dalam. Karena itu, penggunaan kata kwitansi merupakan penggunaan yang keliru.

Apa kata yang benar untuk kwitansi?

Menurut KBBI, penulisan yang benar adalah kuitansi. Kuitansi adalah kata benda (n), yang artinya surat bukti penerimaan uang. Sementara itu, kata kwitansi tidak ditemukan.

Asal Mula Kata Kwitansi

Asal kata kwitansi
Asal kata kwitansi

Seperti kita tahu, Bahasa Indonesia adalah Bahasa Melayu yang diperkaya oleh bahasa daerah dan bahasa asing. Selain terdiri dari banyak suku yang mempengaruhi Bahasa Indonesia, bahasa asing turut mempengaruhi pembentukan kata. Istilah dalam Bahasa Indonesia banyak yang berasal dari Portugis, Belada, Arab, Inggris, maupun Mandarin.

Mengutip Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah yang berada di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pengindonesiaan istilah asing ke dalam Bahasa Indonesia, salah satunya lewat penyerapan.

Salah satu kata yang diserap dan mengalami perubahan dalam pembentukan kata baku adalah kwitansi.

Kata kwitansi muncul karena merupakan penyerapan dari Bahasa Belanda yaitu kwitantie. Unsur huruf /W/ pada kwitanite merupakan bunyi pelancar. Tetapi, dalam Bahasa Indonesia, tidak ada unsur bunyi pelancar, sehingga tidak dituliskan.

Oleh karena itu, kata kwitantie, ketika diserap ke dalam Bahasa Indonesia, penulisannya menjadi kuitansi, bukan kwitansi. Mulai sekarang, kamu perlu mengingatnya, bahwa penggunaan kata yang benar adalah kuitansi. Kamu juga bisa menemukan kata kuitansi di KBBI, sebagai acuan kata baku yang benar untuk digunakan.  

Contoh kata baku lainnya yang benar dalam penulisan kata pelancar, antara lain kuadrat, bukan kwadrat; kuartal, bukan kwartal; ataupun kuartet, bukan kwartet.

Lalu, mengapa kata jadwal tidak menjadi jadual, seperti pada kuitansi?

Jadwal diserap dari Bahasa Arab dan menggunakan kaidah penyerapan unsur asing. Karena itu, huruf /W/ pada jadwal tidak perlu diganti. Contoh kata lainnya dengan unsur yang sama yaitu fatwa, takwa, dan wujud.

Adaptasi ini juga berbeda dengan penyerapan dari Bahasa Inggris. Misalnya kualitas yang berasal dari kata quality, juga kuantitas yang berasal dari kata quantity. Kata-kata seperti ini tidak perlu dibalik dengan menggunakan huruf /W/. 

Penggunaan Kata Kuitansi

Kata tidak baku muncul dalam komunikasi sehari-hari yang santai, tanpa menghilangkan arti sebenarnya. Kata tidak baku muncul karena dipengaruhi pengucapan yang santai, menghilangkan rasa kaku dalam obrolan, dan kerap dipengaruhi cara berbicara di daerah yang berbeda-beda.

Namun, penggunaan kata tidak baku seperti kwitansi, bukannya kuitansi, dapat membawa dampak kurang baik, terutama di kalangan instansi pemerintah yang memiliki konteks resmi.

Karena itu, penggunaan kata tidak baku dapat membawa sejumlah dampak:

- Mengurangi konteks resmi dalam penggunaannya
- Membuka peluang salah input dokumen dan kesulitan mencari kembali karena adanya perbedaan kata
- Mengurangi kebiasaan menggunakan kata baku yang benar

Penggunaan kata baku seharusnya digunakan dalam kegiatan penulisan sehari-hari baik yang ditulis secara manual maupun elektronik. Penggunaan kata baku terutama harus digunakan dalam:

- Tulisan karya ilmiah
- Surat lamaran kerja
- Surat dinas, surat edaran, surat resmi lainnya
- Pidato resmi atau acara formal
- Surat menyurat resmi lembaga

Karena itu, dalam surat-surat resmi atau menunjukkan transaksi yang resmi, penulisan kuitansi seharusnya digunakan.

Fungsi Kuitansi

Fungsi kuitansi
Fungsi kuitansi

Tidak bisa dipungkiri, dalam keseharian, kamu lebih sering menemukan lembaran bertuliskan kwitansi daripada lembaran bertuliskan kuitansi. Kamu bisa melihat, banyak orang belum bisa membedakan antara kwitansi dan kuitansi.

Tetapi, bukan hanya soal penulisan yang baku maupun tidak baku. Banyak juga orang yang belum mengetahui lebih dalam fungsi dari kuitansi.  

1. Sebagai bukti melakukan pembayaran

Fungsi pertama kuitansi adalah sebagai bukti telah diterimanya sejumlah uang sebagai pembayaran. Jika kamu membeli sesuatu dan telah melakukan pembayaran, mintalah kuitansi sebagai bukti yang sah. Andai pembayaran kamu dipertanyakan kembali suatu hari nanti, kuitansi dapat menjadi bukti kuat kamu telah melakukan pembayaran.

2. Sebagai bukti telah menerima pembayaran

Pihak yang menerbitkan kuitansi pembayaran adalah yang menerima sejumlah uang yang disetorkan. Pembuatan kuitansi menjadi bukti bahwa mereka telah menerima sejumlah pembayaran. Pihak yang mengeluarkan kuitansi wajib mencantumkan dengan jelas nama pembayar agar tidak ada sengketa di masa mendatang.

3. Sebagai dokumen dasar pencatatan di buku kas

Bagi pihak penerima uang, kuitansi menjadi bukti telah adanya uang masuk dan wajib dicatatkan dalam buku kas pemasukan. Bagi pihak penyetor uang, kuitansi menjadi dasar pencatatan adanya uang keluar dalam buku kas keluar.   

3. Sebagai bukti pembayaran yang bukan jual beli

Kuitansi pembayaran juga bisa menjadi dokumen atau surat tanda penerimaan sejumlah uang yang bukan berasal dari jual beli. Semisal telah menyerahkan uang iuran, kamu berhak menerima kuitansi sebagai bukti pembayaran.

4. Sebagai bukti kepemilikan

Sebagai tanda telah adanya pembayaran, kuitansi bisa menjadi bukti telah memiliki barang yang ditransaksikan. Dengan begitu, kamu juga bisa menunjukkan kuitansi pembayaran jika mau melakukan retur atau pengembalian barang.

5. Sebagai bukti di depan pengadilan

Sebagai alat bukti yang sah, kuitansi dapat dihadirkan di persidangan jika terjadi perkara di masa mendatang. 

Cara Mengisi Kuitansi yang Benar

Selain menggunakan kata kuitansi yang benar dalam dokumen tanda terima pembayaran, cara mengisi kuitansi dengan benar juga perlu diketahui. Kuitansi memiliki kekuatan hukum di dalamnya, sehingga kamu perlu mencantumkan informasi dengan benar di dalam kuitansi. Berikut cara mengisi kuitansi pada umumnya:

1. Mengisi nomor kuitansi untuk membedakan setiap pencatatan pembayaran.

2. Mengisi tempat ditandatangani kuitansi, serta tanggal pembayaran.

3. Mengisi nama lengkap pemberi uang sesuai dengan KTP. Pencantuman nama sesuai KTP memudahkan dalam penyelesaian perkara di masa mendatang.

4. Mengisi terbilang dengan jumlah yang dibayarkan. Kamu perlu mengisi dengan tulisan yang dapat dibaca.

6. Mengisi tujuan pembayaran dengan jelas, singkat, dan mencantumkan informasi yang penting.

7. Membubuhkan tanda baca titik (.) dalam setiap akhir penulisan kuitansi. Tanda titik yang dibubuhkan di akhir penulisan di kuitansi memberi keterangan kalimat telah selesai dan tidak ada penambahan lagi.

8. Mengisi jumlah pembayaran dalam bentuk angka di kolom sebelah kiri bawah.

9. Membubuhkan tanda tangan, baik pihak penerima uang maupun penyetor uang.

10. Membubuhkan cap basah dari penerima uang.

11. Apabila kuitansi memerlukan meterai, maka tanda tangan harus di atas meterai.

Berikut contoh kuitansi dengan penulisan yang benar:

Kesimpulan

Setelah membaca penjelasan di atas, sekarang kamu tahu penulisan yang resmi adalah kuitansi. Selain menggunakan kata yang benar, kamu juga perlu memperhatikan cara mengisi kuitansi dengan benar. Kuitansi memiliki fungsi yang besar di balik lembarannya yang kecil. Jadi, pastikan kamu menulis kata kuitansi dengan benar dan mengisinya dengan benar.  

Yuk, mudahkan pembukuan usahamu dengan BukuMitra!

Download di Google Play Store